Tugas kelompok (1)

Tugas Softskill
Bahasa Indonesia II
Universitas Gunadarma
“PARAGRAF”

Kelompok : Annisa Fitri
Ira Nirmala
Nanda Dwi Cahyani
Tomy Prasetyo
Kelas : 3EB22 – 2014/2015

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Media cetak atau dengan kata lain melalui tulisan adalah salah satu media yang banyak digunakan untuk menyebarluaskan hasil pemikiran, baik konseptual maupun yang disertai bukti empiris. Makin efektif tulisan yang dibuat, makin tinggi kemungkinan tulisan dipahami oleh pembaca.
Untuk menghasilkan tulisan yang efektif, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai paragraf. Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Seluruh isi paragraf memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu. Hal ini menjadi penting agar yang membaca tulisan tersebut dapat menangakap ide yang disampaikan dengan benar.
Selain pemahaman mengenai apa itu paragraf/alinea,kita juga diharuskan memahami hal-halyang berkaitan dengan paragraf/alinea itu sendiri.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang paragraf/alinea dan hal-hal yang berhubungan dengan paragraf/alinea, makalah sederhana ini mencoba menguraikan semua point-point yang ada dan disajikan pada bab II pembahasan masalah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah pembuatan makalah ini adalah
1. Apa itu paragraf atau alinea?
2. Apa saja fungsi paragraf atau alinea?
3. Apa saja syarat-syarat paragraf atau alinea?
4. Bagaimana pembagian paragraf atau alinea menurut jenisnya?
5. Apa tanda paragraf atau alinea?
6. Bagaimana rangka/struktur paragraf atau alinea?
7. Bagaimana posisi kalimat topik paragraf atau alinea?
8. Untuk apa pengembangan paragraf atau alinea itu?
9. Bagaiman teknik pengembangan paragraf atau alinea?
10. Bagaimana pengembangan paragraf menurut teknik pemaparannya?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut , maka tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui mengenai paragraf atau alinea secara umum yang sering digunakan dalam kegiatan karya tulis.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan paragraf atau alinea itu sendiri, mulai
Dari syarat sebuah paragraf atau hingga berbagai macam bentuk paragraf atau alinea berdasarkan jenis atau teknik pemaparannya.

1.4 Metode Pengumpulan Data

Dalam pembuatan makalah ini kami, kami menggunakan metode kepustakaan sebagai metode utama yang meliputi pencarian informasi yang berkaitan dengan paragraf atau alinea melalui buku-buku pembelajaran serta browsing internet.

1.5 Manfaat Penulisan

Manfaat yamg diharapkan dari penulisan ini adalah :
1. Mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami pengertian paragraf atau alinea yang sering digunakan dalam penulisan karya ilmiah.
2. Mampu memahami hal-hal berkaitan dengan paragraf atau alinea yang sering digunakan dalam penulisan karya ilmiah, seperti jenis-jenis paragraf/alinea, struktur paragraf/alinea, manfaat pengembangan paragaf/alinea hingga teknik pengembangan paragraf/alinea.
3. Dapat menjadi tambahan referensi contoh-contoh makalah yang dapat dijadikan acuan atau pedoman dipembuatan makalah-makalah baik tugas-tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia maupun mata pelajaran yang lainnya.

BAB II
PARAGRAF DALAM BAHASA INDONESIA
2.1 Pengertian Paragraf/Alinea

Paragraf disebut juga alinea. Kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Inggris paragraph. Kata Inggris “paragraf” terbentuk dari kata Yunani para yang berarti “sebelum” dan grafein “menulis atau menggores”. Sedangkan kata alinea dari bahasa Belanda dengan ejaan yang sama. Alinea berarti “mulai dari baris baru” (Adjad Sakri,1992). Paragraf atau alinea tidak dapat dipisah-pisahkan seperti sekarang, tetapi disambung menjadi satu. Menurut Lamuddin Finoza, paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan gabungan beberapa kalimat, sedangkan dalam bahasa Yunani, sebuah paragraf (paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping”) adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Jadi, paragraf atau alinea adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru dan kalimat yang membentuk paragraf atau alinea harus memperlihatkan kesatuan pikiran. Selain itu, kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf atau alinea harus saling berkaitan dan hanya membicarakan satu gagasan. Bila dalam sebuah paragraf atau alinea terdapat lebih dari satu gagasan, paragraf atau alinea itu tidak baik dan perlu dipecah menjadi lebih dari satu paragraf atau alinea. Perhatikan contoh paragraf atau alinea di bawah ini.
Sampah yang setiap hari kita buang sebenarnya bisa disederhanakan menjadi dua macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk, seperti sisa makanan dan daun-daunan yang biasanya basah. Sampah anorganik adalah sampah yang sulit atau yang tidak bisa membusuk, umpamanya plastik, kaca, logam, kain, dan karet.
Dalam contoh paragraf atau alinea di atas terdapat satu pokok pembicaraan, yaitu sampah (organik dan anorganik). Masalah tersebut diungkapkan dengan menggunakan tiga kalimat, bobot ide/gagasan yangdihasilkan oleh paragraf atau alinea itu tentu lebih tinggi atau lebih luas jika dibandingkan dengan ide sebuah kalimat.

2.2 Fungsi Paragraf atau Alinea

Paragraf/alinea memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengekspresikan gagasan tertulis dengan bentuk suatu pikiran yang tersusun logis dalam satu kesatuan.
b. Menandai peralihan gagasan baru dalam sebuah karangan yang terdiri dari beberapa paragraf.
c. Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, sehingga pembaca dapat memahami dengan mudah.
d. Memudahkan pengendalian variabel dalam karangan.
Berdasarkan uraian diatas kiranya menjadi jelas bahwa alinea atau paragraf diperlukan untuk menulis karangan. Tanpa kemampuan menyusun paragraf atau alinea, tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan. Paragraf atau alinea yang dijadikan contoh pada poin 2.1 sekaligus dapat dianggap sebagai karangan sederhana. Karangan singkat yang hanya terdiri atas satu alinea itu tentulah dapat dikembangkan menjadi karangan yang lebih panjang yang terdiri atas beberapa paragraf atau alinea. Dengan pengembangan itu gagasan karangan juga makin meluas. Demikianlah peranan paragraf atau alinea dalam membangun gagasan karangan.
2.3 Syarat Pembentukan Paragraf/Alinea

Suatu paragraf/alinea dianggap bermutu dan efektif mengkomunikasikan gagasan yang didukungnya apabila paragraf/alinea itu lengkap, artinya mngandung pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas. Di samping itu sama halnya dengan kalimat, paragraf/alineaharus memenuhi persyaratan tertentu.(Keraf, 1980:67) Adapun syarat-syarat tersebut antara lain.
Kesatuan (Unity)
Yang dimaksud dengan kesatuan (unity) adalah bahwa paragraf/alinea tersebut harus memperlihatkan dengan jelas suatu maksud atau sebuah tema tertentu. Kesatuan di sini tidak boleh diartikan bahwa saja hanya memuat satu hal saja. Sebuah paragraf/alinea yang mempunyai kesatuan bisa saja mengandung beberapa hal atau beberapa perincian, tetapi semua unsur tadi haruslah bersama-sama digerakkan untuk menunjang maksud tunggal. Maksud tungggal itulah yang ingin disampaikan penulis dalam paragraf/alinea itu (Keraf, 1980:67).
Jadi kesatuan atau unity di sini bukan berarti satu atau singkat kalimatnya, melainkan berarti kalimat-kalimat yang ada dalam paragraf/alinea tersebut menyatu untuk mendukung pikiran utama sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh. Contoh paragraf/alinea yang memenuhi persyaratan kesatuan.
Masalah mahasiswa di Indonesia umum sekali. Mereka kebanyakan sulit untuk sepenuhnya memusatkan perhatian pada studi mereka. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda-pemuda dari keluarga biasa yang kurang mampu. Para mahasiswa itu pun mencari pekerjaan. Oleh karena itu selama belajar mereka kadang-kadang terganggu oleh keadaan ekonomi.
Apabila paragraf/alinea di atas kita analisis, akan kita temukan.
Pikiran utama : masalah umum dalam dunia mahasiswa
Pikiran penjelas : sulit memusatkan perhatian
berasal dari keluarga biasa
terganggu oleh ekonomi
Unsur-unsur penunjang pada paragraf/alinea di atas benar-benar mendukung gagasan utama. Dengan perkataan lain, unsur-unsur penunjang paragraf/alinea tersebut membentuk kesatuan ide (unity).

(2) Kepaduan (Koherensi)
Syarat kedua yang harus dipenuhi sebuah paragraf/alinea adalah bahwa paragraf/alinea tersebut harus mengandung koherensi atau kepaduan yang baik. Kepaduan yang baik itu terjadi apabila hubungan timbal balik antara kalimat-kalimat yang membina paragraf/alinea tersebut, baik, wajar, dan mudah dipahami tanpa kesulitan. Pembaca dengan mudah mengikuti jalan pikiran penulis, tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang menghambat atau semacam jurang yang memisahkan sebuah kalimat dari kalimat lainnya, tidak terasa loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan (Keraf, 1980:75).
Kepaduan bergantung dari penyusunan detil-detil dan gagasan-gagasan sekian macam sehingga pembaca dapat melihat dengan mudah hubungan antar bgaian-bagian tersebut. Jika sebuah paragraf/alinea tidak memliki kepaduan, maka pembaca seolah-olah hanya menghadapi suatu kelompok kalimat yang masing-masing berdiri lepas dari yang lain, masing-masing dengan gagasannya sendiri, bukan suatu uraian yang integral.
Pendeknya sebuah paragraf/alinea yang tidak memiliki kepaduan yang baik, akan menghadapkan pembaca dengn loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan, menghadapkan pembaca dengan urutan waktu dan fakta yang tidak teratur, atau pengembangan gagasan utamanya dengan perincian yang tidak logis dan tidak lagi berorientasi kepada pokok uatama tadi.
Dengan demikian kalimat-kalimat dalam paragraf bukanlah kalimat-kalimat yang dapat berdiri sendiri. Kalimat-kalimat tersebut harus mempunyai hubungan timbal balik, artinya kalimat pertama berhubungan dengan kalimat kedua, kalimat kedua berhubungan dengan kalimat ketiga, demikian seterusnya. Koherensi suatu paragraf dapat ditunjukkan oleh.
a. Pengulangan kata/kelompok kata kunci atau disebut repetisi
b. Penggantian kata/kelompok kata atau subtitusi
c. Pengulangan kata/kelompok kata atau transisi
d. Hubungan implisit atau penghilangan kata/kelompok kata tertentu atau ellipsis
Berikut ini dikemukakan kata-kata atau frase transisi, seperti dikemukakan oleh Keraf (1980:80-81).
a. Hubungan yang menyatakan tambah terhadap sesuatu yang telah disebut, misalnya: lebih lagi, tambahan, lagi pula, selanjutnya, di damping itu, akhirnya, dan sebagainya.
b. Hubungan yang menyatakan pertentangan, misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun juga, sebaliknya, walaupun, demikian, biarpun, meskipun.
c. Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: sama halnya, seperti, dalam hal yang sama, dalam hal yang demikian, sebagaimana.
d. Hubungan yang menyatakan akibat, misalnya; sebab itu, oleh sebab itu, oleh karena itu, jadi, maka, akibatnya, karena itu.
e. Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: untuk maksud itu, untuk maksud tertentu, untuk maksud tersebut, supaya.
f. Hubungan yang menyatakan singkatan, misalnya contoh intensifikasi: singkatnya, ringkasnya, secara singkat, pendeknya, pada umumnya, dengan kata lain, yakni, yaitu, sesungguhnya.
g. Hubungan yang menyatkn waktu, misalnya: sementara itu, segera, beberapa saat kemudian, sesudah, kemudian.
h. Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sini, di situ, dekat, di seberang, berdekatan dengan, berdampingan dengan.
Contoh paragraf/alinea menggunakan transisi yang benar.
Perkuliahan bahasa Indonesia sering dapat membosankan, sehingga tidak dapat perhatian sama sekali dari mahasiswa. Hal ini disebabkan bahwa kuliah yang disajikan dosen sebenarnya merupakan masalah yang sudah diketahui mahasiswa, atau merupakan masalah yang tidak diperlukan mahasiswa. Di samping itu mahasiswa yang sudah mempelajari bahasa Indonesia sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar atau sekurang-kurangnya sudah mempelajari bahasa Indonesia selama dua belas tahun, merasa sudah mampu menggunakan bahasa Indonesia. Akibatnya memilih atau menentukan bahan kuliah yang akan diberikan kepada mahasiswa merupakan kesulitan tersendiri bagi para pengajar.
Perhatikan kata atau frase transisi yang digunakan (digarisbawahi) menatakan hubungan kalimat. Tanpa menggunakan frase transisi ini tulisan di atas akan terpotong-potong dan hubungan antar kalimat tidak jelas.
(3) Kejelasan
Suatu paragraf/alinea dikatakan lengkap, apabila kalimat topik ditunjang oleh sejumlah kalimat penjelas. Tentang kalimat-kalimat penjelas ini sudah dibicarakan di bagian awal tulisan ini, yaitu pada unsur-unsur paragraf. Kalimat-kalimt penjelas penunjang utama atau penunjang kedua harus benar-benar menjelaskan pikiran utama. Cara mengembangkan pikiran utama menjadi paragraf serta hubungan antar kalimat utama dengan kalimat penjelas (detil-detil penunjang) dapat dilihat dari urutan rinciannya. Rincian itu dapat diurut secara urutan waktu (kronologis), urutan logis, terdiri atas sebab-akibat, akibat-sebab, umum-khusus, khusus-umum, urutan ruang (spasial), urutan proses, contoh-contoh dan dnegan detail fakta.
Pengait Paragraf/Alinea
Agar paragraf/alinea menjadi padu digunakan pengait paragraf, yaitu berupa:
2.1 Ungkapan penghubung transisi.
2.2 Kata ganti.
2.3 Kata kunci (pengulangan kata yang terpenting)
2.4 Pembagian Paragraf/Alinea menurut Jenisnya

Dalam sebuah karangan biasanya terdapat tiga macam paragraf jika dilihat dari segi jenisnya.
1. Paragraf/Alinea Pembuka
Paragraf ini merupakan pembuka atau pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang akan menyusul kemudian. Paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan disajikan selanjutnya. Salah satu cara untuk menerik perhatian ini ialah dengna mengutip pertanyaan yang memberikan rangsangan dari para orang terkemuka atau orang yang terkenal. Sebagai awal sebuah karangan, paragraf pembuka harus mampu menjalankan fungsi
a. Menghantar pokok pembicaraan.
b. Menarik minat dan perhatian pembaca.
c. Menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.

2. Paragraf/Alinea Pengembangan
Paragraf pengembangan ialah paragraf yang terletak antara paragraf pembuka dan paragraf yang terakhir sekali di dalam bab atau anak bab. Paragraf ini mengembangkan pokok pembicaraan yang dirancang. Paragraf pengembangna mengemukakan inti persoalan yang akan dikemukakan. Satu paragraf dan paragraf lain harus memperlihatkan hubungan dengan cara ekspositoris, dengan cara deskriptif, dengan cara naratif, atau dengan cara argumentative yang akan dibicarakan pada halaman-halaman selanjutnya.
Secara lebih rinci dapat dirumuskan bahwa fungsi paragraf pengembang di dalam karangan adalah
a. Mengemukakan inti persoalan.
b. Mempersiapkan dasar atau landasan bagi kesimpulan.
c. Meringkas alinea sebelumnya.
d. Menjelaskan hal yang akan diuraikan pada paragraf berikutnya.
3. Paragraf/Alinea Penutup

Paragraf penutup adalah paragraf yang terdapat pada akhir karangan atau pada akhir suatu kesatuan yang lebih kecil di dalam karangan itu. Paragraf penutup berupa simpulan semua pembicaraan yang telah dipaparkan pada bagian-bagian sebelumnya. Karena paragraf ini dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan, penyajiannya harus memperhatikan hal berikut ini.
2.1 Sebagai bagian penutup, paragraf ini tidak boleh terlalu panjang.
2.2 Isi paragraf harus benar-benar merupakan penutup atau kesimpulan akhir sebagai cerminan inti seluruh uraian.
2.3 Sebagai bagian paling akhir yang dibaca, hendaknya paragraf ini dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembacanya.

2.5 Tanda Paragraf/Alinea

Sebuah paragraf dapat ditandai dengan memulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira lima ketukan mesin ketik atau kira-kira dua sentimeter. Agar para pembaca mudah dapat melihat permulaan tiap paragraf sebab awal paragraf ditandai oleh kalimat permulaannya yang tidak ditulis dengan sejajar dengan garis margin atau garis pias kiri. Penulis dapat pula menambahkan tanda sebuah paragraf itu dengan memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya.

2.6 Rangka atau Struktur Paragraf

Sebelum membahas mengenai struktur paragraf, yang perlu kita ketahui adalah ciri-ciri paragraf, yaitu:
a. Paragraf menggunakan pikiran utama yang dinyatakan dalam kalimat topik.
b. Setiap paragraf menggunakan satu kalimat topik, selebihnya merupakan kalimat penjelas dalam menguraikan kalimat topik.
c. Paragraf mengunakan pikiran penjelas yang dinyatakan dalam kalimat penjelas paragraf hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka seluruh kalimat yang membangun paragraf pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua jenis, yaitu kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas atau kalimat pendukung. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok atau ide utama paragraf. Kalimat ini merupakan kalimat terpenting yang harus ada dalam setiap paragraf. Jika kalimat topik tidak ada dalam satu paragraf, berarti ide paragraf itu juga tidak ada. Adapun kalimat penjelas atau pendukung sesuai dengan namanya berfungsi mendukung atau menjelaskan ide utama yang terdapat di dalam kalimat topik.
Ciri kalimat topik dan kalimat penjelas adalah sebagai berikut.
Ciri kalimat topik:
a. Mengandung permasalahn yang potensial untukdirinci dsn diuraikan lebih lanjut.
b. Merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri.
c. Mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf.
d. Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung atau penghubung/transisi.
Ciri kalimat penjelas:
a. Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti)
b. Arti kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf.
c. Pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung/transisi.
d. Isinya berupa rincian, keterangan, contoh dan data tambahan lain yang bersifat memperjelas (mendukung) kalimat topik.

2.7 Posisi Kalimat Topik Paragraf atau Alinea

a. Pada Awal Paragraf ( Deduktif)
Kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal paragraf sehingga paragraf bersifat deduktif, yaitu cara penguraian yang menjadikan pokok permasalahan lebih dahulu, lalu menyusul uraian yang terinci mengenai permasalahan atau gagasan paragraf (urutan umum-khusus).
Media massa merupakan salah satu sarana penting untuk membina dan mengembangkan bahasa Indonesia. Melalui media massa setiap hari disebarkan informasi yang memakai bahasa sebagai sarananya. Dalam penyebaran informasi itu sudah barang tentu media massa senantiasa memperhatikan pemakaian bahasa Indonesia. Dalam hubungan tersebut, media massa telah memberi sumbangan yang berharga bagi pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia.
b. Akhir Paragraf ( Induktif)
Kalimat pokok yang ditempatkan pada akhir paragraf akan membentuk paragraf induktif, yaitu cara penguraian yang menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok pembicaraan (urutan khusus-umum). Penyajian paragraf dengan cara ini lebih sulit jika dibandingakan dengan paragraf deduktif, tetapi paragrafnya akan terasa lebih argumentatif.
Rumah sakit dengan karyawan yang dapat bekerja secara efisien akan dapat mengatasi persaingan yang ketat. Rumah sakit dewasa ini bukan lagi sebagai unit pelayanan sosial semata, melainkan lebih merupakan unit pelayanan sosial-ekonomik. Rumah sakit memerlukan manajer yang ahli menghitung pengelolaan investasi yang ditanam, pengelolaan sumber daya manusia yang efisien, serta mampu menghitung dengan tepat biaya pelayanan medis yang ditawarkan kepada pasien. Kini makin dirasakan perlunya pemimpin rumah sakit yang mempunyai latar belakang pendidikan Manajemen.

c. Pada awal dan akhir paragraf/alinea
Kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf/ alinea sehingga terbentuk paragraf/alinea campuran. Kalimat pada akhir paragraf/alinea akan lebih bersifat pengulangan atau penegasan kembali gagasan utama paragraf/alinea yang terdapat pada awal paragraf/alinea.
Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia sangat memerlukan rumah murah, sehat, dan kuat. Departemen PU sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah, tetapi kuat. Agaknya bahan perlit yang diperoleh dari batu-batuan gunung berapi sangat menarik perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagi pula bahan perlit dapa dicetak menurut keinginan seseorang.Usaha ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat, dan kuat untuk memenuhi keperluan rakyat.

d. Pada seluruh paragraf/alinea
Seluruh kalimat yang membangun paragraf/alinea sama pentingnya sehingga tidak satu pun kalimat khusus menjadi kalimat topik. Kondisi demikian bisa terjadi akibat sulitnya menentukan kalimat topik karena kalimat yang satu dengan yang lain sama-sama penting. Paragraf/alinea semacam ini sering dijumpai dalam uraian-uraian yang bersifat deskriptif dan naratif.
Pagi hari itu aku duduk di bangku yang panjang dalam taman di belakang rumah. Matahari belum tinggi benar, baru sepenggallah. Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Di depanku bermekaran bung beraneka warna. Angin pegunungan membelai wajah, membawa harum. Ku hirup hawa pagi yang segar sepuas-puasku.

2.8 Pengembangan Paragraf/Alinea

Mengarang itu adalah usaha mengembangkan beberapa kalimat topik.
Dengan demikian, dalam karangan itu kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf. Oleh karena itu, kita harus hemat menempatkan kalimat topik. Satu paragraf hanya mengandung sebuah kalimat topik.

2.9 Teknik Pengembangan Paragraf

Beberapa teknik pengembangan paragraf sebagai berikut:
2.1 Generalisasi adalah pengembangan paragraf dengan mengambil kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili pengembangan paragraf tersebut.
Contoh: Setelah karangan anak – anak kelas tiga diperiksa, ternyata Ali, Totok, Alex, dan Burhan mendapat nilai 8. Anak- anak yang lain mendapat nilai 7. Hanya Maman yang mendapat nilai 6, dan tidak seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh dikatakan anak kelas 3 cukup pandai mengarang.

2.2 Analogi adalah pengembangan paragraf dengan memperbandingkan dua hal yang banyak persamaannya, sehingga dapat menarik kesimpulan dari persamaan tersebut. Dengan tujuan untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal pada perbandingan itu.
Contoh: Sifat manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang luas. Ketika manusia itu meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan, sifatnya menjadi rendah hati dan dermawan. Begitu pula dengan padi yang semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri tegak. Demikian pula dengan manusia apabila diberi kepandaian atau kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.

2.3 Klasifikasi adalah pengenbangan dengan cara mengkelompokkan benda- benda yang memiliki persaman ciri, sifat, bentuk, dan ukuran, agar terperinci dalam pengelompokkan.
Contoh: Ketika ribuan peserta Olimpiade Beijing 2008, puluhan ribu warga London berpesta untuk merayakan kemenangannya dalam Olimpiade tersebut. Tanpa kecuali Inggris pun melakukan hal yang sama, karena pada tahun 2012 Olimpiade akan dilaksanakan di Inggris, setiap negara bertarung untuk memperebutkan posisi terbaik mereka dalam menorehkan prestasi. Dimana pada Olimpiade Beijing, Inggris menorehkan prestasi terbaik dalam 100 tahun terakhir, merebut posisi empat dengqn 19 emas, 13 perak, dan 15 perunggu.

2.4 Perbandingan adalah memperjelas gagasan utama dengan memperbandingkan hal- hal yang dibicarakan. Dalam hal ini penulus menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua hal. Dengan memakai konjungsi tetapi, melainkan, apalagi.
Contoh:Walaupun jelas berbeda dalam bentuk dari segi dan sudut manapun sudah jelas mangga dan kedondong itu berbeda, mangga memiliki banyak serat ketika sudah matang, sedangkan kedondong memiliki serat yang sedikit dan memiliki biji keras ketika sudah masak dan itu sangat berbeda sekali, tetapi walaupun demikian mangga dan kedondong sangatlah baik untuk kita konsumsi, karena sama-sama mengandung vitamin C.

2.5 Sebab akibat adalah pengembangan yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat. Penalaran ini digunakan untuk menerangkan suatu kejadian dan akibat yang ditimbulkannya atau sebaliknya. Artinya, hubungan kejadian dan penyebabnyaharus terungkap jelas dan informasinya sesuai dengan jalan fikiran manusia.
Contoh: Kemarau tahun ini cuku panjang. Sebelumnya pohon-pohon di hutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Ditambah lagi harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahannya. Oleh karena itu, tida mengherankan panen di daerah ini selalu gagal.
2.6 Akibat sebab adalah pengembangan yang dimulai dengan fakta husus yang menjadi akibat, kemudian fakta itu dianalisis untuk diambil kesimpulan.

Contoh: Hasil panen para petani hampir setiap musim tidak memuaskan. Banyak tanaman mati sebelum berbuah karena diserang hama. Banyak pula tanaman yang tidak berhasil tumbuh dengan baik. Dan sistem pengairanpun tidak berjalan sesuai dengan aturannya. Semua itu merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan para petani dalam pengolahan pertanian.
2.7 Metode definisi luas adalah usaha untuk menerapkan dan menerangkan konsep istilah tertentu sehingga memerlukan uraian yang panjang. Untuk itu perlu memperhatikan klasifikasi konsep dan tidak boleh mengulang kata atau istilah yang didefinisikan di dalam teks definisi itu sendiri.

Contoh: Istilah organisasi dalam bahasa Indonesia berasal dari kata kerja bahasa Latin organizare yang berarti membentuk sebagian yang menjadi keseluruhan yang saling bergantung dan terkoordinasi. Diantara para ahli menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana.

2.8 Metode alamiah/proses adalah jika isi penguraiannya berupa suatu proses tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu. Misalnya: proses kerja suatu mesin, tentu sangat berbeda dengan proses peristiwa sejarah.
Contoh: Proses pembuatan tape adalah sebagai berikut: Mula – mula disiapkan bahannya ketela yang sudah dikupas kulitnya. Kemudian, ketela itu dicuci bersih dan ditiriskan. Setelah itu, tanak ketela yang sudah dipotong – potong, jika sudah matang, angkat. Lalu didinginkan, setelah dingin campur dengan ragi tape, setelah itu tunggu 3 hari dalam proses fermentasi tersebut.

2.9 Metode gambar adalah dimaksudkan untuk menambah dan memperjelas pernyataan tertulis. Gambar dicantumkan supaya pembaca mengetahui gambar yang harus dilihatnya. Pengertian gambar disini meliputi tabel, grafik, diagram, model peta, gambar tangan, gambar teknik, fotografi.

2.10 Pembagian Paragraf Menurut Teknik Pemaparannya

Paragraf menurut teknik pemapanrannya dapat dibagi dalam empat macam, yaitu deskriptif, ekspositoris, argumentatif, dan naratif.

a. Deskriptif
Paragraf deskriptif disebut juga paragraf melukiskan. Paragraf ini melukiskan apa yang terlihat di depan pembicaranya dapa berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Dengan kata lain, deskriptif berurusan dengna hal-hal yang tertangkap oleh pancaindera.
Contoh sebuah paragaf deskriptif
Pasar Taman Wisma adalah sebuah pasar yang sempurna. Semua barang ada disana. Di toko yang paling depan berderet toko baju seragam dan sepatu. Di dalam terdapat penjual ikan-ikan yang masih segar-segar dan berderet. Di samping kanan pasar terdapat penjual sayur-sayuran, bumbu dapur dan peralatan masak. Di samping kiri pasar terdapat penjual pakain dan obat-obatan. Pada bagian belakang pasar kita dapat menemukan pedagang daging dan penjual es cendol.
b. Ekspositoris
Paragraf ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf ini menampilkan suatu objek. Peninjuannya tertuju pada satu unsur saja. Penyampaiannya dapat menggunakan perkembangan analisi kronologis atau keruangan.
Contoh paragraf ekspositoris
Pasar Taman Wisma Asri adalah pasar yang kompleks. disamping itu terdapat dua puluh lima kios penjual kebutuhan sehari-hari. setiap hari rata-rata terjual dua puluh meter untuk setiap kios. Dari data ini dapat diperkirakan berapa besarnya uang yang masuk ke kas Bekasi dari pasar Taman Wisma Asri.
c. Argumentasi
Paragraf argumentasi sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam ekspositoris. Paragraf argumentasi disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.
Contoh paragraf argumentasi
Industrialisasi di negara kita mendorong mendorong didirikannya berbagai macam pabrik yang memproduksi beraneka barang. Pabrik-pabrik itu memberikan lapangan kerja kepada ribuan tenaga kerja, baik yang berasal dari masyarakat di sekitar pabrik maupun dari daerah-daaerah lain. Dengan demikian, adanya berbagai macam pabrik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu, beraneka barang yang diproduksi oleh pabrik-pabrik tersebut telah meningkatkan ekspor non migas serta menghasilkan devisa bagi negara kita.
d. Naratif
Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi hanya kia temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.
Contoh paragraf naratif :
Siang itu ibu kelihatan benar-benar marah. Aku sama sekali dilarang keluar rumah. Bahkan ibu mengatakan bahwa aku tidak akan mendapatkan uang jajan ke sekolah. Itu semua di gara-gara aku menghilangkan barang kesayangan ibu.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Paragraf/alinea adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan garis baru.
b. Secara umum paragraf/alinea diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari kalimat
c. Syara-syarat paragraf/alinea yang baik harus memiliki dua ketentuan yaitu kesatuan, kepaduan,dan kejelasan paragraf/alinea.
d. Pembagian paragraf/alinea menurut jenisnya yaitu paragraf/alinea pengembang, paragraf/alinea pembuka, dan paragraf/alinea penutup.
e. Paragraf/alinea dapat ditandai dengan memulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam atau memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya.
f. Rangka atau struktur sebuah paragraf/alinea terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas.
g. Ada empat macam cara untuk menempatkan kalimat topik atau kalimat pokok dalam sebuah paragraf/alinea, yaitu pada awal paragraf/alinea, pada akhir paragraf/alinea, pada awal dan akhir paragraf/alinea, dan pada seluruh paragraf/alinea.
h. Mengarang itu adalah usaha mengembangkan beberapa kalimat topik.
i. Pada umumnya ada enam metode yang dugunakan untuk pengembangan alinea, yaitu generalisasi, analogi, klasifikasi, perbandingan, sebab akibat, akibat sebab, metode definisi, metode alamiah, dan metode bergambar.
j. Paragraf menurut teknik pemapanrannya dapat dibagi dalam empat macam, yaitu deskriptif, ekspositoris, argumentatif, dan naratif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Akademika Pressindo.
2. Akhadiah, Sabarti, dkk. 1993. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan Kependudukan.
3. Finoza, Lamuddin . 2000. Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Non Jurusan Bahasa. Jakarta: Mawar Gempita.
4. Juanda, Asep dan Kaka Rusdyanto . 2007. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X, XI, XII. Bandung : CV. Pustaka Setia.
5. Wardani, I.G.A.K, dkk. 2008. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta : Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.
Internet :
1. http://arifust.web.id/2010/03/03/paragraf-induktif-dan-deduktif/.Diakses tanggal 04 Oktober 2010.
2. http://cairuddin.blogspot.com/2009/10/penulisan-dan-pengembangan-paragraf.html. Diakses tanggal 05 Oktober 2010.
3. http://cribo5.livejournal.com/893.html. 05 Oktober 2010. Diakses tanggal 04 Oktober 2010.
4. http://dianapermatasari.wordpress.com/2009/10/19/tugas-bahasa-indonesia/. Diakses tanggal 05 Oktober 2010.
5. http://hitsuke.blogspot.com/2009/05/paragraf.html. Diakses tanggal 05 Oktober 2010.
6. http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf .Diakses tanggal 05 Oktober 2010.
7. http://karangan-dhesy.blogspot.com/2008/04/pengertian-paragraf.html. Diakses tanggal 05 Oktober 2010.
8. http://organisasi.org/pengertian_paragraf_alinea_danbagian_dari_paragraf_bahasa_indonesia. Diakses tanggal 05 Oktober 2010.
9. http://www.contohmakalah.co.cc/2009/07/jenis-jenis-paragraf.html. Diakses tanggal 05 Oktober 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s